10 Pil Pahit yang Harus Ditelan Anak Rantau Demi Berjuang Untuk Keluarga Tercinta

Pelajar.me – Luasnya bumi cinta Tuhan ini menjadi alasan mengapa setiap anak hendaknya merantau. Tujuan merantau ini pun sangat beragam, tapi yang jelas muaranya selalu sama. Baik yang merantau untuk kuliah, ataupun untuk bekerja. Muaranya adalah kebahagiaan bagi keluarga tercinta. Kalau boleh meminjam istilah orang Minang, mereka menyebutnya “mambangkik batang tarandam” atau mengangkat batang terendam yang secara epistimologis berarti merubah nasib.

Oleh karena itu, meski pilihan merantau adalah pilihan yang amat sangat sulit, tapi ia harus dijalani jua. Demi keluarga tercinta, anak-anak rantau rela menelan pil-pil pahit. Bagimu yang anak rantauan seringkali, kepahitan itu menyiksa batin, tapi kamu harus yakin bahwa perginya kamu ke rantauan hari ini adalah untuk berjuang, bukan untuk main-main.

#1 Sering banget dilanda rindu, tapi tak pernah berani menyatakan itu

(memecomic.id)

Bagi seorang anak rantau, rindu adalah teman sehari-hari. Rindu kerap datang dalam setiap menit bahkan dalam setiap hembusan napas. Terkadang suka terbayang senyum keluarga di rumah. Senyum-senyum sendiri atau bahkan sedih sendiri. Anak rantau harus benar-benar akrab dengan emosi bernama rindu ini, agar rindunya dapat menjadi rindu yang basah. Rindu yang bukan membuatnya berhenti untuk berjuang namun yang membasahi semangat setiap kali ia mulai kering kerontang.

… rindu yang kerap kamu simpan dan kamu endapkan dengan cara mencari kesibukan.

#2 Pengen pulang melulu, tapi pas sudah diberi kesempatan pulang, rasanya gak pengen balik ke perantauan itu meski semua barang sudah selesai dikemas

(pixabay.com)

Saat berada di perantauan bawaannya pengen pulang melulu, tapi pas udah di rumah hati selalu berat untuk kembali pergi. Meski barang-barang sudah selesai dikemasi. Meski tiket keberangkatan telah tunai direservasi. Tapi bener deh, rasanya gak kuat hati ini. Jikalau bukan karena keinginan untuk membahagiakan orang tua yang dicintai, mungkin kamu tidak akan pergi.

Tapi ya, inilah, perjuangan itu adalah bentuk baktimu, untuk membahagiakan orang tuamu yang sudah susah payah membesarkanmu dari saat kamu kecil dulu.

#3 Selalu dilema tiap kali menelpon keluarga, soalnya setelah selesai menelpon terkadang tanpa disadari air mata suka terjun tiba-tiba

Telpon gak ya? (pixabay.com)

Kamu yang hidup di rantau barangkali sering dilema, setiap kali kamu ingin menelpon keluarga. Gak ditelpon rindu, ditelpon rindunya malah bisa menjadi-jadi. Bahkan tanpa kita sadari karena saking rindunya terkadang air mata jatuh tanpa kita duga. Terkadang kita sering terdiam, bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, tapi terlalu banyak yang disimpan dan bingung mana yang harus di dahulukan.

Maka jadilah percakapan telpon itu menjadi percakapan yang default banget seperti menanyakan gimana kabar keluarga di rumah, serta hal-hal formal lainnya.

#4 Sulit beradaptasi dengan lingkungan perantauan di bulan-bulan pertama, apalagi ketika budaya setempat jauh berbeda dengan budaya kampung halaman

(pixabay.com)

Awal-awal kedatanganmu di perantauan adalah hal yang sangat wajar ketika kamu sulit dalam beradaptasi. Lingkungan yang baru yang sama sekali asing bagimu. Orang-orang yang bahkan belum sempat sekalipun kamu bertemu. Butuh waktu yang cukup lama untuk mencoba mengenali dan memahami mereka. Belum lagi jika kultur atau budayamu dengan budaya di sana jauh berbeda, usaha adaptasimu harus benar-benar ekstra. Kamu benar-benar harus mencari tahu bagaimana cara hidup masyarakat di situ dan sedapat mungkin menghindari hal-hal yang sensitif bagi mereka.

… bahkan saking sulitnya beradaptasi, itu membuatmu susah untuk memejamkan mata saat jam tidur tiba.

#5 Berhemat-hemat dalam makan dan kebutuhan lain itu sudah barang biasa

(pixabay.com)

Namanya juga anak rantau. Anak rantau tak seperti anak rumahan yang bisa makan sesukanya, sesering mungkin. Anak rantau benar-benar harus pandai menjadi manajer keuangan bagi dirinya sendiri. Pasalnya, jatah uang saku bulanan yang diberi harus tahan sampai uang itu datang lagi. Alhasil, kamu harus berhemat-hemat soal makanan, soal kebutuhan lainnya pula.

… bahkan saking hematnya kamu rela bolak-baliknya ke kampus untuk menikmati wi-fi gratis ketimbang membeli paket data.

#6 Sering banget menyembunyikan masalah dan tidak memberitahukan keluarga di rumah karena khawatir mereka juga nanti ikutan susah

(pixabay.com)

Bukan hidup namanya kalau tidak nemuin masalah. Cuma masalahnya, masalah anak rantau jauh lebih complicated dari biasanya. Saat masalah itu datang kamu sering menyembunyikannya dan berusaha menyelesaikannya sendiri sebisamu. Patang banget bagimu buat nyusahin teman, akhirnya kamu pikul itu sendiri tanpa tahu selesainya entah kapan. Kalau bilang keluarga rasanya gak tega, kamu takut mereka khawatir maka kamu putuskan untuk menanggungnya sendiri meski seringkali ia membuatmu getir.

Tapi Sob, suatu masalah akan semakin ringan jika dihadapi bersama. Saat kamu punya masalah, meskipun tak tega mengatakan pada keluarga di rumah tapi pada satu kondisi kamu harus berani. Berani mengungkapkannya demi menghindari kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Atau minimal kamu dapat berbagi dengan teman-temanmu di perantauan atau orang-orang yang dapat kamu percayai. Mudah-mudahan dengan begitu kamu mendapatkan solusi.

#7 Seenak-enaknya masakan di perantauan, masakan ibu di rumah selalu ngangenin dan tiada duanya

(cvaristonkupang.com)

Rindu yang melanda anak rantau nyatanya bukan rindu pertemuan saja, bahkan juga rindu dengan masakan buatan ibu di rumah. Meski banyak masakan enak di tanah perantauan, masakan rumah tidak pernah ada duanya. Meski tak dapa pulang terkadang rasa kangen dengan masakan ibu itu terobati ketika dapat kiriman langsung dari rumah.

#8 Ngelihat temen suka bolak-balik kampung dengan mudah itu suka bikin sendu, tapi kita harus yakin semua itu hanya masalah waktu

(pixabay.com)

Bukan jarang tapi sering banget, iri sama teman yang rumahnya deket. Tiap hari bisa pulang, lha wong dia tinggal di rumahnya. Atau yang seminggu sekali bisa pulang. Sedangkan kamu cuma bisa pulang sebulan sekali, atau bahkan satu semester sekali. Atau lebih lama dari itu, setahun sekali saat lebaran doang. Dan lebih nyesek lagi kalau cuma bisa pulang saat sudah menyelesaikan studi dan dapat gelar sarjana.

Memang sih, lihat temen bolak-balik kampung itu bikin sendu, tapi kamu harus yakin dan tegar bahwa ini hanya masalah waktu.

P.S: Buat yang suka pulkam ngertiin dikit perasaan temenmu yang perantau gitu, misalnya dibawakan makanan dari rumah atau apa gitu, hehe

#9 Demi mencukupi kebutuhan hidup tak jarang kamu harus mencari pekerjaan sampingan atau bahkan meminjam uang teman

(okezone.com)

Salah satu masalah yang paling sering dialami anak rantau adalah masalah finansial. Kadang kiriman telat datang. Kadang datang tepat waktu tapi jumlahnya kurang. Kadang juga udah datang telat jumlahnya kurang pula. Duh. Tapi,.. tapi,.. kamu tetap harus bersyukur dan jangan sampai terlontar kata-kata yang akan menyakiti orang tuamu di rumah. Sebab kamu mungkin tidak pernah tahu, seberapa sulit mereka mendapatkan uang yang akan dikirimkan sebagai biaya bulananmu. Bisa jadi mereka banting tulang tak kenal waktu, atau meminjam uang ke orang-orang dan mengubur rasa malu,… semua itu untuk kamu lho. Untuk kamu.

Maka, sebagai anak yang tahu diri, kamu harus bisa berhemat dan bertegas-tegas dengan dirimu. Bahkan kapan perlu kamu bisa mengusahakan memenuhi kebutuhanmu sendiri seperti mencari pekerjaan samping atau berbisnis kecil-kecilan dengan syarat tidak merugikan diri. Dan jika memang itu terlalu sulit, cobalah terbuka pada teman-temanmu, mana tahu ada sahabatmu yang mau membantu.

 

#10 Tapi sepahit-pahitnya perjuangan hidup di perantauan yang kamu rasa, yakinlah dengan itu kamu dapat lebih dewasa dan bijaksana

(pixabay.com)

Perjuangan hidup anak rantau itu memang pahit, tapi hal-hal pahit itu akan memberikan buah yang manis. Ingat-ingatlah pepatah lama “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, “siapa yang menanam ialah yang menuai atau memetik”. Mungkin menurutmu perjuanganmu saat ini terlalu sulit, atau bahkan kamu berpikir jika kehidupan tidak adil, tapi jika kamu mau memahami lebih jauh sebenarnya Tuhan sedang membantumu berproses dan tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, bijaksana dan dapat diandalkan.

Anak-anak rantauan adalah anak yang kuat dan tegar. Ia adalah seorang yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Ia rela menekan ego pribadi demi orang-orang yang ia cintai. Ia ikhlas bersusah-susah demi kebahagiaan orang-orang yang menunggunya di kampung halaman. Oleh karena itu, anak rantau harus menjaga dirinya sebaik-baiknya. Agar kelak dapat pulang dengan membawa kesuksesan yang telah menunggunya.

Baca Juga Yuk

Rahasia di Balik Marahnya Ortu, Kamu Akan Terharu Jika Mengetahuinya Pelajar.me – Teman-teman pelajar pasti pernah dong ya dimarahi sama orang tuanya masing-masing. Bahkan bukan cuma pernah lagi, tapi sering. Seringkali...
7 Alasan Ikut OSIS yang Wajib Kamu Tahu Alasan Ikut OSIS - Halo teman-teman pelajar. Pernahkah kamu kepikiran untuk ikut di organisasi siswa yang paling besar dan kece di sekolah yang bernam...
7 Tanda Kamu Sudah Dewasa yang Mungkin Tidak Pernah Kamu Sadari Pelajar.me – Tua itu mutlak tapi dewasa itu relatif. Dengan kata lain, dewasa itu adalah pilihan. Ada banyak orang yang sudah tua tapi belum kunjung d...
7 Hal yang Perlu Kamu Lakukan Saat Mulai Cemburu dengan Pencapaian Orang Lain Pelajar.me - Kadangkala menurut kita hidup ini tidaklah adil. Bagaimana tidak, kita dan orang lain barangkali sudah sama-sama berusaha keras (atau jus...